Perlahan
terbuka kedua Matamu
Aneh,
nampak jelas kau lihat tubuhmu sendiri terbujur
Tanya
kau pada seorang, mengapa? Apa yang terjadi padaku?
Sedikitpun
ia tak mendengar tanyamu
Tak
ada “Galak di hulu tanda akan hujan”
Dapatlah
seketika orang-orang mengerubungimu,
Menangisimu
dan kian merasa kehilangan
Jelang
Senja, Engkau dimanja
Dimandikan
oleh sanak saudara
Tak
ada harta dan pakaian yang untukmu mereka kenakan
Di
hias. Dan hanyalah dengan lembaran kain putih untuk kau kenakan
Jelang
Senja, kalanya engkau tersadar
Banyak
orang berduyun sajikan engkau 4 takbir
Upacara
pelepasan mereka laksanakan, dengan kranda yang bukan kamar
Kau
tinggalkan harta, tahta dan sanak saudara untuk takdir
Tak
mampu kau berjalan, hanya pasrah dengan terkapar
Kau
di usung, di antar, di turunkan ke liang lahat
Terbaringlah
kau dengan kepalan tanah bak bantal tanpa tikar
Adzan,
Iqamah di telingamu dengan wajah di arah kiblat
Jelang
Senja, di tutuplah lahat dengan kayu
Di
timbun dengan tanah dan di injak-injak oleh orang yang menyayangimu
Tetap
tinggalah yang tinggal, walau raga harus hancur
Rasakan
nikmat atau adzab kubur.
Karya
: Asep Saefulloh Fattah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar